Pertama kali saya melihat judul film ini, yang terbayang adalah pertempuran antara manusia dan zombie ala Walking Death Series yang sekarang sudah season kesekian. Bahkan, saya berfikir kalau film ini sekuel dari Resident Evil yang sama-sama berusaha menyelamatkan dunia dari mayat hidup. Ternyata, film ini lebih seru dari semua film yang tadi saya sebutkan.
Sebenarnya film ini sederhana , mencari cinta sejati namun dibumbui dengan hadirnya pasukan zombie di Inggris. Film ini diambil dari novel pride and prejudice karya Jane Austin yang diterbitkan pada tahun 1813. Novel aslinya bercerita tentang keluarga Benneth yang mempunyai lima orang anak perempuan dan kelimanya diharapkan untuk menikah dengan para bangsawan. Pada saat itu, perempuan di Inggris mencari calon suami bukan hanya sebagai pendamping hidup tapi yang lebih utama adalah mampu menghidupi mereka. Dalam hal ini, intinya adalah si calon suami harus memiliki banyak uang. Namun, anak pertama dan kedua keluarga Benneth, Jane dan Elizabeth memiliki kecerdasan dan sudut pandang berbeda dalam memilih calon suami, yang pastinya bertentangan dengan harapan ibu mereka. Meskipun pada akhirnya mereka berdua menikahi pria yang kaya, namun mereka tidak menikah karena uang melainkan karena ketulusan cinta mereka.
Kalau dari novelnya kita bisa melihat bahwa sebuah ketulusan dan kesabaran akan membuahkan kebahagian pada akhir cerita, di film Pride, Prejudice and Zombie yang di rilis pada tahun 2016 ini lebih menitikberatkan bahwa wanita itu harus tangguh. Tangguh mempertahankan harga dirinya, tangguh mempertahankan keyakinannya dan tangguh dalam menyelamatkan hidupnya. Jadi, jangan harap akan melihat plot cerita yang mellow mendayu-dayu ala Romeo and Juliet di film ini.
Menonton film ini membuat saya berfikir bahwa seharusnya wanita itu tidak hanya di pandang dari sisi wanitanya saja, semisal lemah lembut, manis, cantik dan pemalu atau bahasa gaulnya beberapa waktu yang lalu adalah unyu-unyu, tapi wanita itu juga harus kuat, meskipun tidak harus sekuat supergirl. Kuat disini adalah wanita harus bisa menghadapi segala situasi, bahkan situasi yang paling tidak menyenangkan sekalipun.
Parahnya, kalau kita rajin mengintip cuitan, postingan, ataupun komentar di media sosial, yang kita dapatkan adalah segudang kebaperan yang mayoritas ditulis oleh wanita. Mulai dari yang ringan seperti capek bekerja atau lagi kurang enak badan, kurang mood, kurang duit, sampai kurang perhatian dan kurang kasih sayang, hingga yang kelas berat seperti diselingkuhi, ditinggal pacar, dikibulin pacar, dan segudang kebaperan yang sebenarnya tidak penting untuk di lihat warga medsos lainnya (saya juga sedikit tersindir sih). Saya tertegun dan otomatis membandingkan dengan Jane dan Elizabeth Benneth yang selalu menyelipkan pisau dibalik korset mereka. Saya berfikir kalau zombie itu memang ada, wanita-wanita yang seperti ini bagaimana nasibnya ya? (tidak usah dijawab, jawaban pastinya adalah mereka akan jadi santapan zombie)
Kalaupun saat itu facebook, Twitter, Instagram, Path, Line dan sebangsanya sudah ada, saya membayangkan apa yang akan ditulis Jane dan Elizabeth di akun mereka. Mungkin saja yang ditulis adalah “ Yes! mati lagi satu zombie!” atau “hari ini sibuk membasmi tentara zombie”. Bahkan postingan untuk kisah cinta mereka pun pasti tidak sebaper wanita sekarang, semisal kata –kata yang di kutip dari film tersebut “Of all the weapons in the world, love is the most dangerous.” (dari semua senjata yang ada di dunia, cinta adalah yang paling berbahaya). Owww..owww…saya jejingkrakan membaca kutipan ini.
Faktanya, kita mungkin tidak bisa menjadi persis sama dengan Jane dan Elizabeth yang lihai berperang dan menggunakan pedang. Kita juga tidak seberani mereka berdua yang tidak gentar melawan Zombie, karena saya pribadi lihat kecoa atau laba-laba saja teriak kencang. Tapi, setidaknya kita bisa belajar bahwa wanita itu tidak melulu harus berbalut kebaperan. Mulailah menata diri menjadi wanita tangguh yang bisa diandalkan. Jadi wanita yang tidak cengeng ketika mengahadapi masalah. Singkatnya, menjadi wanita anti baper yang bisa menaklukan dunia. Semangat buat para wanita! (Dinny F.Yanti, 26 Feb 2017, 21.00 PM)

